![]() |
| https://www.glutenfreegigi.com/the-gluten-free-casein-free-diet-for-autism/ |
Autis adalah suatu gangguan
perkembangan yang kompleks menyangkut pola bermain, komunikasi, interaksi
sosial, gangguan sensoris, aktifitas imajinasi, perilaku dan emosi (Suryana,
2004). Gejalanya mulai tampak sebelum anak berusia 3 tahun. Bahkan pada autistic
infantile gejalanya sudah ada sejak lahir. Autis menimbulkan kekhawatiran
dan bahkan cenderung berlebihan pada orang tua karena penyandang autis diperkirakan 75-80% berpotensi mengalami retardasi mental, sedangkan 20%
dari mereka mempunyai kemampuan yang tinggi dalam bidang-bidang tertentu
(Kusumayanti, 2011).
Menurut Adams et al., (2011),
anak-anak dengan autisme lebih sering dilaporkan memiliki masalah pada
pencernaannya dan lebih parah dari pada anak-anak pada umumnya yang ada di
masyarakat. Secara umum anak yang mengalami ganguan autis akan mengalami efek
gangguan pada pencernaan, syaraf, dan kekebalan tubuh, mereka tidak bisa
mencerna casien yang banyak terkandung dalam susu sapi dan gluten yang banyak
terkandung dalam terigu. Hasil olahan yang mengandung gluten adalah semua
makanan yang berasal dari tepung terigu, seperti makroni, spageti, mie, ragi
serta bahan pengembang kue dan roti. Sedangkan produk olahan yang mengandung
casein adalah susu sapi segar maupun susu bubuk, mentega, keju, yogurt, coklat
dan ice cream. Penderita autis tidak diperbolehkan mengkonsumsi makanan
yang mengandung gluten maupun kasein. Jika tetap mengkonsumsi makanan tersebut,
dapat dipastikan kadar morfin yang berasal dari zat-zat tersebut meningkat,
kemudian anak terkesan berperilaku seperti morfinis (Fadhli, 2010)
Penyebab Autisme
Penyebab autisme belum diketahui
secara pasti, namun ada kemungkinan keterlibatan faktor phykologi, phisiologi
dan sosiologi. Para ahli belum sepenuhnya menerima bahwa autis disebabkan
fungsi dan struktur otak yang abnormal. Berbagai hal yang dapat menghamat
pembentukan sel otak janin yaitu rubella, toxoplasma, herpes, jamur (candida),
oksigenasi (perdarahan) atau keracunan makanan. Selain gangguan tersebut,
ternyata faktor genetik juga dapat menyebabkan autis dan terdapat gen tertentu
yang mengakibatkan kerusakan khas pada sistem limbic atau pusat emosi di
jaringan otak (Suryana, 2004).
Suplemen Makanan untuk
Anak Autis (Candless
2003; Bernhoft & Buttar 2008; Dufault 2009)
a. Vitamin B6 dan Magnesium
Dibutuhkan dosis harian Vitamin B6
300-50 mg diberikan bersamaan dengan 200 mg magnesium. Manfaatnya mencakup
peningkatan pada kontak mata, bertambah minatnya terhadap dunia sekitar mereka,
berkurangnya tantrum, dapat meningkatkan kemampuan berbicara, merangsang
perkembangan bicara, mendukung sistem imun, proses visual, sensori, dan
kemampuan kognitif, mendukung proses detoksifikasi, serta mendukung sistem
pencernaan.
b. Seng /Zinc
Penambahan seng berhubungan dengan
peningkatan pertumbuhan. Seng juga mengurangi diare kronis
serta akut. Dosis yang dibutuhkan yaitu 25-50 mg (2-3 mg per kilogram
berat badan), namun jika anak autisme tersebut juga memiliki kadar copper/
tembaga yang tinggi maka dosis seng dapat ditingkatkan karena bermanfaat untuk
melawan dan menurunkan kadar tembaganya karena seng dapat berfungsi untuk
proses metallothioneine yang diperlukan untuk melawan radikal bebas dan
mengeluarkan racun logam berat dari tubuh.
c. Kalsium
Anak-anak yang kekurangan kalsium
lebih cenderung menunjukkan sifat mudah tersinggung, mengalami gangguan tidur,
amarah dan tidak mampu memberikan perhatian pada sesuatu. Anak-anak membutuhkan
kalsium 800-200 mg perhari terutama yang sedang menjalani diet GFCF.
d. Selenium
Selenium bekerja sama dengan vitamin E untuk mencegah radikal bebas. Kekurangan selenium menyebabkan penurunan
fungsi imun dan meningkatnya kerentanan pada infeksi karena penurunan
kadar sel darah putih. Dosis yang dibutuhkan yaitu 100-200 mcg/hari.
e. Vitamin A
Vitamin A berperan sebagai
antioksidan dan meningkatkan imun. Vitamin A dalam bentuk alami dapat ditemukan
pada cod liver oil dimana dosis yang dibutuhkan yaitu 5000 IU/hari sehingga dapat meningkatkan fungsi
penglihatan, persepsi sensorik, pengolahan bahasa dan perhatian.
f. Vitamin C dan E
Vitamin C bekerja secara sinergis
dengan vitamin E sehingga harus diberikan secara bersamaan (Vitamin C 1000 mg/hari atau lebih dan vitamin E 200-600 IU/hari).
Vitamin E berfungsi untuk
menjaga membran sel dari kerusakan oksidatif, dapat memperbaiki metabolisme dan
penerimaan vitamin D serta kalsium, meningkatkan sirkulasi, dan memperbaiki
jaringan tubuh.
g. Asam Lemak Essential
Asam lemak Omega-3 berguna dalam perkembangan otak dan pemeliharaan neurotransmitter yang
dapat mempengaruhi perilaku dan cara belajar serta meningkatkan perhatian. Asam lemak Omega-3 essential juga membantu meningkatkan
respon imun dan membantu melawan inflamasi di sistem pencernaan. EPA (Eicosapentaenoic Acid) 500-1000 mg/hari, DHA
(Docosahexaenoic Acid) 250-500 mg/hari dan GLA (Gamma Linolenic Acid) 50-100
mg/hari.
h. Asam amino
Asam amino dapat
membangun struktur protein otot, membuat enzim, membuat variasi neurotransmitter otak dan hormon,
detoksifikasi dan proteksi antifoksidan. Kekurangan asam amino
dapat menyebabkan efek yang merugikan seperti gangguan belajar dan perilaku.
Pada anak autisme dibutuhkan 700 mg/hari.
Pemilihan Makanan untuk
Anak Autis
Salah satu tindakan yang dapat dilakukan
untuk mengatasi perilaku hiperaktif pada anak penyandang autis adalah dengan
pengaturan makanannya. Makanan untuk anak autis pada umumnya sama dengan anak
normal lainnya yaitu sehat dan memenuhi gizi seimbang. Dengan kata lain
terpenuhi dari segi energi sebagai zat tenaga (karbohidrat dan lemak), sumber
zat pembangun (protein) dan sumber zat pengatur (berbagai vitamin dan mineral)
(Kusumayanti, 2011).
Pedoman Pengaturan
Makanan pada Anak Autis
1. Makanan seimbang, untuk menjamin
agar tubuh memperoleh semua zat gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan,
perbaikan sel-sel yang rusak dan kegiatan sehari-hari
2. Bebas gluten dan kasein (Gluten
free Casein free = CFGF)
Hindari semua produk yang mengandung
gluten dank asein. Gluten adalah protein yang secara alami terdapat dalam
terigu, oat, dan barley. Sedangkan kasein adalah protein susu.
3. Memasak menggunakan minyak sayur,
minyak jagung, minyak kacang tanah, olive oil, dan sebagainya
4. Konsumsi serat dari sayur dan
buah 3-5 porsi/hari
5. Tidak menggunakan food
additive
Hindari memberikan makanan dengan
zat aditif atau makanan yang mengandung campuran bahan-bahan kimia.
6. Bila anak alergi atau intoleran
terhadap makanan tertentu, hindari makanan tersebut
7. Pertimbangkan pemberian suplemen
vitamin dan mineral
8. Hindari Junk food
9. Hindari pemberian ikan, terutama
ikan laut karena kandungan logam beratnya yang tinggi akibat pencemaran
lingkungan
10. Membatasi asupan gula baik gula
murni maupun gula buatan
11. Hindari makanan yang diolah
dengan proses fermentasi, seperti kecap, tauco, keju, kue yang dibuat dengan
menggunakan soda pengembang, makanan yang sudah lama disimpan atau buah-buahan
yang dikeringkan, makanan yang dibuat melalui peragian (tempe, roti)
12. Hindari semua jenis jemur segar
maupun kering
13. Hindari makanan yang mengandung
fenol dan salisilat
(Kusumayanti, 2011; Soenardi &
Soetarjo 2009)
Gluten dan kasein tidak
diperbolehkan untuk anak autis karena termasuk dalam jenis protein yang sulit dicerna.
Enzim pencernaan pada anak autis sangat kurang sehingga membuat makanan yang
mengandung gluten dan kasein tidak dapat dicerna sempurna. Pada anak normal,
protein yang dikonsumsi akan dipecah menjadi asam amino sehingga dapat
digunakan oleh tubuh melalui mekanisme/ jalur metabolism. Namun, pada anak
autis protein tidak dapat tercerna dengan sempurna, akibatnya akan terjadi
rangkaian protein rantai pendek yang hanya terdiri dari dua asam amino yang
disebut peptid. Peptid ini diserap kembali dalam darah dan dibawa ke otak. Di
jaringan otak, peptid akan berubah menjadi morfin yang disebut caseomorfin dan
gluteomorfin yang 100 kali lebih jahat dari morfin biasa karena sifatnya yang
dapat mempengaruhi fungsi susunan syaraf pusat. Selain dapat menimbulkan keluhan
diare, juga dapat meningkatkan hiperaktifitas yang bukan hanya berupa gerakan
tetapi juga emosi, seperti mengamuk, marah, atau mengalami gangguan tidur
(Kusumayanti, 2011).
Panduan Diet CFGF (Kusumayanti, 2011)
![]() |
| https://www.dealwithautism.com/casein-free-gluten-free-diet-for-autism/ |
1. Minggu Pertama
Hindari makanan dari terigu dalam
bentuk mi dan ganti dengan tepung beras (bihun, spaghetti beras atau jagung)
2. Minggu Kedua
Hindari biskuit dari terigu dan
ganti dengan biskuit beras
3. Minggu Ketiga
Hindari roti dan ganti dengan
camilan berbahan dasar singkong, ubi, kentang
4. Minggu Keempat
Hindari susu sapi dan ganti dengan
susu kedele, susu kacang almon, susu dari air beras
5. Minggu Kelima
Hindari makanan yang mengandung
banyak gula dan ganti dengan gula palem
6. Minggu Keenam
Atur jadwal makan buah-buahan.
Hindari apel, anggur, melon, tomat, stoberi. Pilih yang aman bagi anak autis,
seperti pepaya, nanas, kiwi, dan wortel.
Daftar makanan yang boleh dan tidak
boleh dimakan bagi penyandang autis (Kusumayanti, 2011):
Dari menu tersebut dapat disusun
menu keluarga yang memperhatikan aturan makanan (rotasi makanan) bagi anak
autis. Manfaat rotasi makanan untuk mengamati makanan yang berbahaya bagi anak
autis dengan cara melihat reaksinya setelah 3 hari pemberian makanan tersebut.
Jika terlihat kemajuannya, diet diteruskan namun jika belum ada kemajuan dapat
mengintrospeksi kedisiplinan dalam melaksanakan diet. Lakukan test laboratorium
untuk mengetahui kadar kasein dan gluten pada darah anak serta pengecekan
kembali food diary (catatan makanan) dan berkonsultasi dengan ahli gizi.
Semoga bermanfaat! 😊😊
DAFTAR PUSTAKA
Adams, J.B.; T. Audhya; S.
McDonough-Means; R.A. Rubin; D. Quig; E. Gehn; M. Loresto; J. Mitchell; S.
Atwood; S. Barnhouse & W. Lee. (2011). Effect of a Vitamin/Mineral
Supplement on Children and Adults with Autism. Research Article. Biomed
Central.
Ambarwati, D.S.; A. Rosidi & Y.
Noor SU. (2014). Gambaran Mutu Makanan Pada Penderita Autisme di Panti Asuhan
Al-Rifdah Semarang. Jurnal Gizi Universitas Muhhammadiyah Semarang; 3(1).
Bernhoft, R. & Buttar, R. (2008).
Autism: Multi-System Oxidative and Inflammatory Disorder. Townsend Letter.
Candless, J.Mc. (2003). Children
with Starving Brains: Anak-Anak dengan Otak yang Lapar; Panduan Penanganan
Medis untuk Penyandang Gangguan Spektrum Autisme, Penerjemah Siregar, F. Edisi
Kedua. PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.
Dufault, R.; R. Schnoll; W.J. Lukiw;
B. Leblanc; C. Cornett; L. Patrick; D. Wallinga; S.G. Gilbert & R. Crider.
(2009). Mercury Exposure, Nutritional Deficiencies and Metabolic Disruptions
May Affect Learning in Children (dalam Behavioral and Brain Functions).
Research Article. BioMed Central.
Fadhli, A. (2010). Buku Pintar
Kesehatan Anak. Yogyakarta: Pustaka Anggrek.
Kusumayanti, G.A.D. (2011).
Pentingnya Pengaturan Makanan Bagi Anak Autis. Jurnal Ilmu Gizi; 2(1): 1-8.
Suryana, A. (2004). Therapy Autisme
(Anak Berbakat dan Hiperaktif). Jakarta: Progress.
Soenardi, T. & Soetardjo.
(2009). Terapi Makanan Anak dengan Gangguan Autisme. PT Penerbitan Sarana Bobo.
Zahwa, Z. & E. Warsiki (2014).
Aspek Biomedik Pada Autisme Fokus Pada Diet dan Nutrisi. Jurnal Psikiatri
Surabaya. Vol. 3 - No. 1 / 2014-04 TOC: 2, and page: 11-20.


